Apa yang Kita Inginkan

Kita menginginkan cinta! Kita ingin mencintai dan dicintai. Bayangkan ketika kita merasakan detik-detik terindah bersama cinta. Demi Allah, kita tidak akan mendapatkan di dunia. Kita akan ditinggalkan cinta kita. Dunia tidak akan menjadi indah terus.

Orang yang mencari kebahagiaan dan cinta di dunia, ia tidak akan menemukan di sana, tetapi ia akan menemukan di surga. Jangan hiraukan cerita cinta romantis dan khayalan-khayalan tentang cinta, karena ia tidak pernah ada di dunia. Kita hanya akan menemukan di surga.
Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidndari) dengan langsung. " (QS. Al-Waqi'ah : 35).
Siapakah mereka? Bidadari surga atau wanita dunia?! Wanita dunia, dan bukan bidadari surga. Bidadari surga itu begitu cantik dan menarik, namun menurut ulama wanita dunia yang masuk surga lebih cantik dari bidadari surga.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya." (QS. Al-Waqi'ah:35-37).
"Utraabun" artinya umurnya sekitar enam belas tahun, dan "Al-'urabu" itu pandai bercinta dan berbicara hingga mampu mengambil hati suami. Sehingga Ibnul Qoyyim rahimahullah, berkata, "Jika ia memasuki istananya --yakni wanita penghuni surga dari penduduk dunia-- segala sesuatu di surga menjadi terang, dan jika ia bicara dengan suaminya, suaminya terbuai hingga ia lupa pada surga, dan terpaut dengan istrinya.

Wahai manusia yang mencari cinta, yang melakukan ribuan kemaksiatan dengan mengatasnamakan cinta, yang menelantar keimanan dan hati yang tersambung dengan Allah SWT karena syahwat cinta sebentar atau maksiat sebentar, kalian akan dapatkan cinta di surga.

Nabi SAW menceritakan penduduk surga, lalu berkata, "Hati mereka berada dalam hati yang satu, mereka tiada berselisih dan tiada saling membenci (HR, Bukhari dan Muslim)
Apakah kita tahu, apa itu hati yang satu? Artinya, jika kita saling mencintai di dunia, maka Allah akan menempatkan kita di surga pada tempat yang saling berdekatan. Jika salah seorang menginginkan sesuatu, maka Allah SWT akan menghilangkan keinginan serupa pada hati orang yang lainnya.

Ridha serta menerima segala ketentuan Allah

Dalam kenyataan hidup, banyak sekali apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan ketentuan Allah. Sebuah keluarga ingin punya anak-anak laki-laki, nyatanya yang lahir malah perempuan. Kita melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan, ternyata sudah beberapa kali ditolak terus walaupun persyaratan sudah dilengkapi. Seorang pedagang sudah berusaha membesarkan usahanya, tapi hasilnya tidak sesuai dengan keinginan.

Hal tersebut janganlah mengecilkan hati dan menghilangkan semangat. Sebab, hakikatnya bisa jadi ada hikmah didalamnya. Seperti pernah diucapkan Rasulullah SAW kepada Tsa'labah, lebih baik kita memperoleh hasil yang sedikit tapi dibarengi dengan sikap syukur kepada Allah, daripada berlimpahnya kekayaan tapi tak mampu syukur kepada Allah.

Dalam melihat suatu persoalan, hendaknya kita tidak menatapnya dari sisi negatifnya saja, tapi lihat pula dengan teliti dari sisi positifnya. Jika kita hanya mau melihat dari sisi negatifnya, maka hati kita tidak pernah bsa meraih ketentraman. Lebih celaka lagi kalau kemudian memandang Allah sudah berlaku tidak adil terhadap dirinya. Ada yang berpikir terhadap kenyataan yang dilihatnya. Jika ada orang selain dia punya kelebihan dalam hal harta, dia berpikir bahwa Allah telah memualiakan orang itu. Jika kekurangan itu dialami oleh dia, maka dalam pikirannya berkata bahwa Allah telah menghinakan dia... Astaghfirullah... semoga kita tidak seperti itu...

Anda adalah umat yang terbaik

Ada satu perkataan yang harus kita renungkan atau dijadikan bahan muhasabah untuk diri kita. Apakah kita sudah merasa seperti apa yang dikatakan oleh Ka'ab Al-Ahbar yang saya kutip dari bukunya Abu Dzar Al-Qalamuni yang berjudul "Berlari Menuju Allah" yang mana beliau (Ka'ab Al-Ahbar) berkata sebagaimana berikut ini, "Umat ini (Islam) telah diberi tiga kelebihan dibanding umat-umat sebelumnya selain seorang nabi yaitu:
1. Apabila Allah mengirim seorang Nabi, dia berkata kepadanya, 'Kamu menjadi saksi atas umatmu', sementara umat Islam dijadikan saksi atas seluruh umat manusia. Firman-Nya: "Agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia."(QS. Al-Baqarah (2): 143)
2. Kepada Nabi itu akan dikatakan, 'Tak ada hal yang susah dalam agamamu' sementara untuk umat Islam, Allah berfirman, "Dan Dia tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan" (QS. al-Hajj (22): 78).
3. Kepadanya dikatakan, 'Berdoalah kepada-Ku pasti Kukabulkan,' sementara untuk umat Islam, Allah berfirman, "Berdoalah kepada-Ku pasti akan Kuperkenankan bagimu" (QS. al-Mu'min (40): 60).
Maka hisablah diri kita, apakah amanah yang Allah berikan kepada kita sebagai bagian dari khairu ummah dapat kita pelihara dengan baik?
Umar ra. memberi nasehat "Hasibuu anfusakum, qabla an tuhasabuu."
Tujuannya agar kita selalu menghisab diri kita adalah agar segala keburukan tidak terulang, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi, sehingga amanah sebagai bagian dari khairu ummah benar-benar dapat dipelihara dengan baik dan dapat dibanggakan.
Imam Hasan Al-Basri mengatakan, "Sesungguhnya penghisaban dihari kiamat akan ringan bagi orang yang telah menghisab amalnya di dunia, begitu pula sebaliknya penghisaban dihari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalnya didunia."

Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku

Imam Al-Ghazali dalam Ihya mengutip kisah Sahal bin Abdullah Tasatturi yang menceritakan salah satu pengalaman penting dalam hidupnya. Saat berusia tiga tahun, ia melihat pamannya Muhammad bin Suwar melaksanakan shalat. Setelah selesai, sang paman bertanya, "Tidakkah engkau berzikir kepada Allah yang menciptakanmu?" Sahal balik bertanya, "Bagaimana caranya?"

Muhammad bin Suwar kemudian menjelaskan, "Katakanlah dengan hatimu: 'Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku.' Katakan hal itu sebanyak tiga kali tanpa menggerakkan lisan, ketika engkau hendak tidur."

Ia kemudian melaksanakan nasihat itu selama beberapa malam. Setelah itu, Sahal memberitahukannya kepada Muhammad bin Suwar. "Lakukan hal itu tujuh kali dalam satu malam," pinta pamannya kembali. Nasihat itu pun dijalankan Sahal dengan sungguh-sungguh. Pamannya kemudian memintanya menambah zikir tersebut menjadi sebelas kali.

Saat saya melakukan hal itu selama satu tahun lamanya, pamanku berkata, 'Hapalkan apa yang telah aku ajarkan dan lakukanlah itu selalu sampai engkau masuk ke liang kubur. Kata-kata itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat. Wahai Sahal barangsiapa merasakan Allah bersamanya, Allah melihatnya dan Allah menyaksikannya, apakah ia akan melakukan maksiat kepada-Nya?'

Apa yang diajarkan Muhammad bin Suwar kepada Sahal Tasatturi, keponakannya, terbilang sederhana. Yaitu menggunakan metode pengulangan. Menyebutkan suatu hal secara berulang-ulang, melalui lisan, pikiran dan hati sekaligus, akan menjadikan kalimat-kalimat tersebut tertanam kuat di alam bawah sadar. Bila terus diulang dalam jangka waktu lama maknanya akan mendarah daging dan akhirnya menjadi kekuatan dahsyat yang akan mengendalikan tingkah laku....

Kisah Nabi Ibrahim a.s dan Empat Ekor Burung

Alkisah di tengah-tengah masyarakat yang dipenuhi dengan kesyirikan dan noda kemaksiatan lahirlah seorang pemuda yang kelak kita kenal sebagai Nabi Ibrahim. Ia anak dari seorang ayah yang bekerja sebagai pemahat dan pedagang patung. Ia sebagai calon Rasul dan pesuruh Allah yang akan membawa pelita kebenaran kepada kaumnya,jauh-jauh telah diilhami akal sihat dan fikiran tajam serta kesedaran bahwa apa yang telah diperbuat oleh kaumnya termasuk ayahnya sendiri adalah perbuat yang sesat yang menandakan kebodohan dan sempitnya fikiran dan bahwa persembahan kaumnya kepada patung-patung itu adalah perbuatan mungkar yang harus diberantas dan diperangi agar mereka kembali kepada ibadah yang benar ialah ibadah kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan pencipta alam semesta ini.


Semasa remajanya Nabi Ibrahim sering disuruh ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Tuhan kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calon pembeli dengan kata-kata:” Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini? ”


Nabi Ibrahim yang sudah berketetapan hati hendak memerangi syirik dan persembahan berhala yang berlaku dalam masyarakat kaumnya ingin lebih dahulu mempertebal iman dan keyakinannya, menenteramkan hatinya serta membersihkannya dari keragu-raguan yang mungkin sesekali mangganggu fikirannya dengan memohon kepada Allah agar diperlihatkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk-makhluk yang sudah mati.


Berserulah ia kepada Allah: ” Ya Tuhanku! Tunjukkanlah kepadaku bagaimana engkau menghidupkan makhluk-makhluk yang sudah mati.”Allah menjawab seruannya dengan berfirman:bTidakkah engkau beriman dan percaya kepada kekuasaan-Ku? “Nabi Ibrahim menjawab:” Betul, wahai Tuhanku, aku telah beriman dan percaya kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu, namun aku ingin sekali melihat itu dengan mata kepala ku sendiri, agar aku mendapat ketenteraman dan ketenangan dan hatiku dan agar makin menjadi tebal dan kokoh keyakinanku kepada-Mu dan kepada kekuasaan-Mu.”


Allah memperkenankan permohonan Nabi Ibrahim lalu diperintahkanlah ia menangkap empat ekor burung lalu setelah memperhatikan dan meneliti bahagian tubuh-tubuh burung itu, memotongnya menjadi berkeping-keping mencampur-baurkan kemudian tubuh burung yang sudak hancur-luluh dan bercampur-baur itu diletakkan di atas puncak setiap bukit dari empat bukit yang letaknya berjauhan satu dari yang lain.


Setelah dikerjakan apa yang telah diisyaratkan oleh Allah itu, diperintahnyalah Nabi Ibrahim memanggil burung-burung yang sudah terkoyak-koyak tubuhnya dan terpisah jauh tiap-tiap bahagian tubuh burung dari bahagian yang lain. Dengan izin Allah dan kuasa-Nya datanglah berterbangan empat ekor burung itu dalam keadaan utuh bernyawa seperti sedia kala begitu mendengar seruan dan panggilan Nabi Ibrahim kepadanya lalu hinggaplah empat burung yang hidup kembali itu di depannya, dilihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Allah Yang Maha Berkuasa dapat menghidupkan kembali makhluk-Nya yang sudah mati sebagaimana Dia menciptakannya dari sesuatu yang tidak ada.


Dan dengan demikian tercapailah apa yang diinginkan oleh Nabi Ibrahim untuk mententeramkan hatinya dan menghilangkan kemungkinan ada keraguan di dalam iman dan keyakinannya, bahwa kekuasaan dan kehendak Allah tidak ada sesuatu pun di langit atau di bumi yang dapat menghalangi atau menentangnya dan hanya kata “Kun” yang difirmankan Oleh-Nya maka terjadilah akan apa yang dikehendaki ” Fayakun”.

Ada Yang Cemburu Kepada Bilal bin Rabah R.A

Menetes air mata ini saat membaca kisah betapa cintanya seorang Bilal bin Rabah kepada Rasulullah SAW. Seorang budak yang Allah muliakan di dunia dan selagi badannya masih didunia tetapi terompahnya telah terdengar di syurga. Kita mengenang kembali Saat Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam menaklukkan kota Mekah, Beliau SAW berjalan di depan pasukan hijaunya bersama ‘sang pengumandang panggilan langit’, Bilal bin Rabah. Saat masuk ke Ka’bah, beliau hanya ditemani oleh tiga orang, yaitu Utsman bin Thalhah, pembawa kunci Ka’bah, Usamah bin Zaid, yang dikenal sebagai kekasih Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam dan putra dari kekasihnya, dan Bilal bin Rabah, Muazin Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam..

Saat Shalat Zhuhur tiba. Ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam, termasuk orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam saat itu, baik dengan suka hati maupun terpaksa. Semuanya menyaksikan pemandangan yang agung itu. Pada saat-saat yang sangat bersejarah itu, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memanggil Bilal bin Rabah agar naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan kalimat tauhid dari sana. Bilal melaksanakan perintah Rasul Sholallahu alaihi wasallam dengan senang hati, lalu mengumandangkan azan dengan suaranya yang bersih dan jelas.


Ribuan pasang mata memandang ke arahnya dan ribuan lidah mengikuti kalimat azan yang dikumandangkannya. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang tidak beriman dengan sepenuh hatinya, tak kuasa memendam hasad di dalam dada. Mereka merasa kedengkian telah merobek-robek hati mereka.

Saat azan yang dikumandangkan Bilal sampai pada kalimat, “Asyhadu anna muhammadan rosuulullaahi (Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah)”. Juwairiyah binti Abu Jahal bergumam, “Sungguh, Allah telah mengangkat kedudukanmu…. Memang, kami tetap akan shalat, tapi demi Allah, kami tidak menyukai orang yang telah membunuh orang-orang yang kami sayangi.” Maksudnya, adalah ayahnya yang tewas dalam Perang Badar.


Khalid bin Usaid berkata, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memuliakan ayahku dengan tidak menyaksikan peristiwa hari ini.” Kebetulan ayahnya meninggal sehari sebelum Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam masuk ke kota Mekah..


Sementara al-Harits bin Hisyam berkata, “Sungguh malang nasibku, mengapa aku tidak mati saja sebelum melihat Bilal naik ke atas Ka’bah.” Al-Hakam bin Abu al-’Ash berkata, “Demi Allah, ini musibah yang sangat besar. Seorang budak bani Jumah bersuara di atas bangunan ini (Ka’bah).” Sementara Abu Sufyan yang berada dekat mereka hanya berkata, “Aku tidak mengatakan apa pun, karena kalau aku membuat pernyataan, walau hanya satu kalimat, maka pasti akan sampai kepada Muhammad bin Abdullah.”


Bilal menjadi muazin tetap selama Rasulullah Sholallahu alaihi wasallam hidup. Selama itu pula, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sangat menyukai suara yang saat disiksa dengan siksaan yang begitu berat di masa lalu, ia melantunkan kata, “Ahad…, Ahad… (Allah Maha Esa).”

Taubatnya Seorang Bani Israil

Pada zaman Nabi Musa as, kaum bani Israil pernah ditimpa musim kemarau panjang, lalu mereka berkumpul menemui Nabi Musa as dan berkata:


“Wahai Kalamullah, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami!” Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke tanah lapang. Dalam suatu pendapat dikatakan bahwa jumlah mereka pada waktu itu lebih kurang tujuh puluh ribu orang.


Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, maka Nabi Musa as mulai berdoa. Diantara isi doanya itu ialah: “Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, hewan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas.


Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi yaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman.”


Kepada Nabi Musa as Allah menurunkan wahyu-Nya yang isinya: “Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya.”


Nabi Musa kembali berkata: “Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang lemah, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini akan dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari tujuh puluh ribu orang?” Allah berfirman: “Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!.”


Menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah, maka Nabi Musa as segera berdiri dan berseru kepada kaumnya: “Wahai seorang hamba yang durhaka yang secara terang-terangan melakukannya bahkan lamanya sebanyak empat puluh tahun, keluarlah kamu dari rombongan kami ini, karena kamulah, hujan tidak diturunkan oleh Allah kepada kami semuanya!”


Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, maka orang yang durhaka itu berdiri sambil melihat kekanan kekiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian tahulah dia bahwa yang dimaksudkan oleh Nabi Musa as itu adalah dirinya sendiri. Di dalam hatinya berkata: “Jika aku keluar dari rombongan ini, niscaya akan terbukalah segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini terhadap kaum bani Israil, akan tetapi bila aku tetap bertahan untuk tetap duduk bersama mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah SWT.”


Setelah berkata demikian dalam hatinya, lelaki itu lalu menyembunyikan kepalanya di sebalik bajunya dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukannya sambil berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah durhaka kepada-Mu selama lebih empat puluh tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini.” Beberapa saat selepas itu, kelihatanlah awan yang bergumpalan di langit, seiring dengan itu hujanpun turun dengan lebatnya bagaikan ditumpahkan dari atas langit.


Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata: “Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorangpun yang keluar serta mengakui akan dosa yang dilakukannya?” Allah berfirman: “Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu.” Nabi Musa berkata: “Tuhanku, lihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu yang taat itu?” Allah berfirman: “Wahai Musa, dulu ketika dia durhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?”